Punya 2 HandPhone sudah sangat mudah! Mungkin, itulah fenomena yang terjadi sekarang. Ketika teknologi belum booming dan orang-orang masih belum ”sadar”, sebuah hp merupakan barang langka dan bisa dibilang barang mewah. Seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai membuka mata akan pentingnya teknologi dan komunikasi melalui hp. Yah, HP! Merupakan kependekan dari HandPhone, telepon genggam, yaitu suatu alat komunikasi jarak jauh dan canggih ini telah menjadi suatu kebutuhan primer.
HandPhone terbagi dalam 2 jenis, ada HandPhone CDMA dan HandPhone GSM.
Sekarang ini banyak orang yang mempunyai kedua jenis HandPhone tersebut. Mengapa? Dari beberapa sumber yang penulis dapat, HandPhone CDMA merupakan HandPhone dengan tarif termurah jika digunakan untuk menelepon, sedangkan HandPhone GSM? Kebanyakan mereka tertarik dengan fitur-fitur yang ditawarkan seperti online lebih murah, kamera, musik dan sebagainya.
Kadang penulis merasa heran, apakah tidak ribet ”memelihara” 2 buah HandPhone? Mereka menjawab, ”tidak”! Justru mereka merasa nyaman dan terbantu karena disaat HandPhone yang satu bermasalah, HandPhone yang lain bisa dipergunakan. Mereka menyebutnya dengan cadangan. Lalu, bagaimana dengan pengisian pulsa? Bukankah itu lebih memakan banyak pengeluaran?? Mereka menjawab kembali dengan jawaban yang sama. Menurut mereka sebagai konsumen pengguna, mereka merasa enjoy dengan masalah pengisian pulsa.
HandPhone GSM memiliki banyak layanan dalam mengisi pulsa, seperti pulsa internet, pulsa SMS, pulsa telepon dan lain-lain yang banyak sekali ditawarkan demi memanjakan si konsumen, sedangkan untuk HandPhone CDMA, mereka lebih merasa tenang dan santai karena tarif yang ditawarkan sangat murah! Jadi, dengan hanya pengisian sekali saja, mereka bisa menggunakannya dengan cukup lama. Pokoknya sangat mudah hidup zaman sekarang dengan teknologi yang ditawarkan. Hmm, sepertinya penulis akan mengikuti jejak konsumen ini. Punya HandPhone 1 saja sudah untung, apalagi 2??
Tampilkan postingan dengan label Perilaku Konsumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perilaku Konsumen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 Desember 2009
DISKON VS MEREK? PILIH MANA?
Bulan Desember bulan penuh diskon! Mungkin itulah yang terjadi sekarang. Hal itu dikarenakan adanya moment seperti Hari Raya Natal dan Tahun Baru secara berdekatan. Di moment seperti inilah, diskon diadakan secara besar-besaran. Di sisi lain, merk pun jadi hal yang menggiurkan bagi sebagian orang. Ada saja konsumen yang ingin berburu diskon saja, merk saja, atau bahkan mungkin keduanya, diskon dan merek.
Merek adalah nama atau simbol yang diasosiasikan dengan produk/ jasa dan menimbulkan arti psikologis/ asosiasi. Seseorang yang membeli barang bermerek didasarkan atas faktor pembelian individu berdasar psikologis pribadi seseorang. Sedangkan diskon merupakan suatu bentuk keasyikan bagi konsumen, dimana konsumen bisa membeli atau bahkan memborong barang-barang yang berkualitas namun harganya lebih rendah dibandingkan harga aslinya.
Sesuai dengan tema yang diambil yaitu perilaku konsumen, maka penulis mengamati sekitar, yaitu bagaimana konsumen memilih antara diskon dan merk. Dari sejumlah konsumen, mereka lebih memilih atau bahkan mungkin tergila-gila dengan diskon. Strategi pemasaran harus berlandaskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen.
Kebanyakan konsumen memilih diskon, dikarenakan harganya relatif lebih murah dari harga aslinya. Lalu alasan yang lain karena sebagian konsumen ingin membeli barang berdasarkan faktor marketing strategy (diskon) karena ingin memperbanyak barang, seperti baju dan sepatu. Di sisi lain, ada konsumen yang lebih memilih merek, dikarenakan ada suatu kebanggaan tersendiri ketika membeli barang yang bermerek.
Walau begitu, komponen sentral dari model adalah pengambilan keputusan konsumen, yaitu pemahaman dan evaluasi informasi merek. Bagaimana pertimbangan alternative merek disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, dan keputusan untuk merek.
Merek adalah nama atau simbol yang diasosiasikan dengan produk/ jasa dan menimbulkan arti psikologis/ asosiasi. Seseorang yang membeli barang bermerek didasarkan atas faktor pembelian individu berdasar psikologis pribadi seseorang. Sedangkan diskon merupakan suatu bentuk keasyikan bagi konsumen, dimana konsumen bisa membeli atau bahkan memborong barang-barang yang berkualitas namun harganya lebih rendah dibandingkan harga aslinya.
Sesuai dengan tema yang diambil yaitu perilaku konsumen, maka penulis mengamati sekitar, yaitu bagaimana konsumen memilih antara diskon dan merk. Dari sejumlah konsumen, mereka lebih memilih atau bahkan mungkin tergila-gila dengan diskon. Strategi pemasaran harus berlandaskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen.
Kebanyakan konsumen memilih diskon, dikarenakan harganya relatif lebih murah dari harga aslinya. Lalu alasan yang lain karena sebagian konsumen ingin membeli barang berdasarkan faktor marketing strategy (diskon) karena ingin memperbanyak barang, seperti baju dan sepatu. Di sisi lain, ada konsumen yang lebih memilih merek, dikarenakan ada suatu kebanggaan tersendiri ketika membeli barang yang bermerek.
Walau begitu, komponen sentral dari model adalah pengambilan keputusan konsumen, yaitu pemahaman dan evaluasi informasi merek. Bagaimana pertimbangan alternative merek disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, dan keputusan untuk merek.
KONSUMEN SEBAGAI TARGET PASAR
Konsumen Sebagai Target Pasar
Studi perilaku konsumen muncul seiring dengan berkembangnya konsep pemasaran, yang merupakan cara pandang pemasar dalam menghadapi konsumen dan pesaingnya, di mana pemasar berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen secara lebih efektif dari para pesaingnya. Tujuannya adalah memperoleh kepuasan pelanggan. Sehingga ilmu perilaku konsumen dibutuhkan untuk mengidentifikasi apa kebutuhan dan keinginan konsumen dan pelanggan tersebut sehingga pemasar mampu menyusun dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang tepat untuk karakteristik konsumen yang menjadi target pasar.
Perkembangan teori tentang sikap sudah sangat maju. Sikap juga dapat digambarkan dalam bentuk model. Model tradisional menggambarkan pengaruh informasi dari lingkungan luar pribadi seseorang, di mana informasi tersebut akan diolah dengan menggunakan elemen internal dari seseorang, untuk menghasilkan sikap terhadap objek. Model analisis konsumen menyebutkan bahwa sikap terdiri dari komponen perasaan (affect) dan kognitif, perilaku, serta lingkungan. Model tiga komponen dan model ABC menyatakan bahwa sikap konsumen dibentuk oleh faktor kognitif, afektif, dan konatif (perilaku atau kecenderungan untuk berperilaku). Teori kongruitas menggambarkan pengaruh antara dua jenis objek, di mana kekuatan satu sama lain dapat saling mempengaruhi persepsi konsumen. Dan model terakhir adalah model Fishbein yang merupakan kombinasi dari kepercayaan objek terkait dengan atribut dan intensitas dari kepercayaan tersebut. Model Fishbein ini kemudian dimodifikasi dengan menambahkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku dan norma subjektif.
Model-model pengambilan keputusan telah dikembangkan oleh beberapa ahli untuk memahami bagaimana seorang konsumen mengambil keputusan pembelian. Model-model pengambilan keputusan kontemporer ini menekankan kepada aktor yang berperan pada pengambilan keputusan yaitu konsumen, serta lebih mempertimbangkan aspek psikologi dan sosial individu.
Dalam suatu contoh disni seperti pemilihan yang di lakukan konsumen terhadap beberapa produk elektronik yang ada. Banyak diantara konsumen memang fanatik terhadap suatu produk elektronik yang di berasal dari negara-negara tertentu. Ambil contoh suatu produk televise, dimana produk tersebut di produksi di Jepang lalu Negara Cina dan Taiwan memiliki lisensi resmi dari pihak produsen. Disini konsumen merasa lebih memilih produk dari negara asalnya yaitu Jepang. Walaupun negara yang telah memiliki lisensi resmi dari produsen asal produk tersebut telah ada tetap saja banyak konsumen yang memang memburu produk tersebut dari negara asalnya.
Dalam hal tersebut apakah memang faktor negara yang ada mempunyai suatu efek tertentu sehingga menjadi pilihan di urutan pertama diantara negara yang memproduksi barang tersebut dengan adanya lisensi. Padahal disini setiap negara yang telah mendapatkan lisensi dalam hal produksinya telah diberlakukan standar produksi.
Sehingga pada akhirnya memang banyak konsumen di negara ini yang memilih suatu produk yang memang merupakan hasil dari suatu negara asal produk tersebut, atau setidaknya di pilih dari suatu negara besar yang dapat memiliki kredibilitas tinggi dalam hal produksi.
Referensi : massofa.wordpress.com/2008/02/02/perilaku-konsumen/
Studi perilaku konsumen muncul seiring dengan berkembangnya konsep pemasaran, yang merupakan cara pandang pemasar dalam menghadapi konsumen dan pesaingnya, di mana pemasar berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen secara lebih efektif dari para pesaingnya. Tujuannya adalah memperoleh kepuasan pelanggan. Sehingga ilmu perilaku konsumen dibutuhkan untuk mengidentifikasi apa kebutuhan dan keinginan konsumen dan pelanggan tersebut sehingga pemasar mampu menyusun dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang tepat untuk karakteristik konsumen yang menjadi target pasar.
Perkembangan teori tentang sikap sudah sangat maju. Sikap juga dapat digambarkan dalam bentuk model. Model tradisional menggambarkan pengaruh informasi dari lingkungan luar pribadi seseorang, di mana informasi tersebut akan diolah dengan menggunakan elemen internal dari seseorang, untuk menghasilkan sikap terhadap objek. Model analisis konsumen menyebutkan bahwa sikap terdiri dari komponen perasaan (affect) dan kognitif, perilaku, serta lingkungan. Model tiga komponen dan model ABC menyatakan bahwa sikap konsumen dibentuk oleh faktor kognitif, afektif, dan konatif (perilaku atau kecenderungan untuk berperilaku). Teori kongruitas menggambarkan pengaruh antara dua jenis objek, di mana kekuatan satu sama lain dapat saling mempengaruhi persepsi konsumen. Dan model terakhir adalah model Fishbein yang merupakan kombinasi dari kepercayaan objek terkait dengan atribut dan intensitas dari kepercayaan tersebut. Model Fishbein ini kemudian dimodifikasi dengan menambahkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku dan norma subjektif.
Model-model pengambilan keputusan telah dikembangkan oleh beberapa ahli untuk memahami bagaimana seorang konsumen mengambil keputusan pembelian. Model-model pengambilan keputusan kontemporer ini menekankan kepada aktor yang berperan pada pengambilan keputusan yaitu konsumen, serta lebih mempertimbangkan aspek psikologi dan sosial individu.
Dalam suatu contoh disni seperti pemilihan yang di lakukan konsumen terhadap beberapa produk elektronik yang ada. Banyak diantara konsumen memang fanatik terhadap suatu produk elektronik yang di berasal dari negara-negara tertentu. Ambil contoh suatu produk televise, dimana produk tersebut di produksi di Jepang lalu Negara Cina dan Taiwan memiliki lisensi resmi dari pihak produsen. Disini konsumen merasa lebih memilih produk dari negara asalnya yaitu Jepang. Walaupun negara yang telah memiliki lisensi resmi dari produsen asal produk tersebut telah ada tetap saja banyak konsumen yang memang memburu produk tersebut dari negara asalnya.
Dalam hal tersebut apakah memang faktor negara yang ada mempunyai suatu efek tertentu sehingga menjadi pilihan di urutan pertama diantara negara yang memproduksi barang tersebut dengan adanya lisensi. Padahal disini setiap negara yang telah mendapatkan lisensi dalam hal produksinya telah diberlakukan standar produksi.
Sehingga pada akhirnya memang banyak konsumen di negara ini yang memilih suatu produk yang memang merupakan hasil dari suatu negara asal produk tersebut, atau setidaknya di pilih dari suatu negara besar yang dapat memiliki kredibilitas tinggi dalam hal produksi.
Referensi : massofa.wordpress.com/2008/02/02/perilaku-konsumen/
MEMILIH GITAR ELEKTRIK
Sesuai dengan judul yang ada yaitu perilaku konsumen, maka disini kita di tuntut untuk mengamati pola ataupun suatu tindakan yang diambil oleh konsumen dalam memenuhi dan memilih barang ataupun jasa pemuas kebutuhan mereka. Dalam hal ini ingin di ketahui pola perilaku konsumen dalam memilih gitar elektrik.
Yang pertama harus di ketahui disini adalah apakah memang menggunakan gitar yang berkelas mempunyai peranan yang penting terhadap perilaku konsumen dalam mengambil suatu keputusan pembelian pada akhirnya nanti. Sebagai obyek disini adalah mengambil suatu merek gitar Ibanez, karena dari hasil data vote yang dilakukan oleh musisi.com ternyata merek ini mempunyai suara terbanyak.
Secara garis besar pola perilaku konsumen yang ada sangat beragam yang di mulai dari suatu kebutuhan untuk memiliki lalu di lanjutkan dengan proses pengambilan keputusan hingga akhirnya konsumen tersebut mengambil keputusan akhir. Dalam hal ini model motivasi di mulai karena hasrat yang ada untuk memiliki suatu instrument ini yang lalu di lanjutkan oleh adanya suatu tekanan yang menimbulkan suatu dorongan untuk mencari-cari informasi produk ini hingga pada tujuan akhir sebagai keputusan.
Hasrat yang ada untuk memiliki suatu alat musik ini berawal dari adanya motivasi yang ada hingga menimbulkan suatu keinginan untuk memiliki. Hasrat tersebut dapat timbul karana adanya suatu pengaruh-pengaruh yang ada di sekitar konsumen tersebut, ataupun memang karena keinginan konsumen tersebut.
Tekanan yang ada timbul karena ada hasrat yang ada untuk memiliki, sehingga akhirnya konsumen tersebut termotivasi dengan dorongan yang ada. Dalam hal ini mulai di adakan suatu pencarian informasi yang ada. Informasi bisa berasal dari berbagai macam media yang ada ataupun dapat mencoba langsung menggunakan alat-alat musik tersebut. Namun dalam hal ini beberapa distributor memang telah mengadakan endroser terhadap beberapa musisi lokal untuk mempromosikan produknya. Sehinga secara tidak sengaja jika konsumen tersebut menggunakan gitar dari pabrikan ini bisa menimbulkan suatu prestise ataupun nilai tambah yang dapat membuat dirinya menjadi bangga saat menggunakan merek Ibanez.
Harga yang ada juga bisa mempengaruhi pengambilan keputusan, karena dalam hal ini tentu saja konsumen akan memilih suatu pemenuh kebutuhan yang terbaik dengan harga yang memang terjangkau dengan dana yang mereka miliki. Dilihat dari segi model banyak sekali seri gitar yang di terbitkan oleh pabrikan ini. Untuk masing-masing seri tentu saja memiliki spesifikasi yang dapat dipilih oleh konsumen.
Satu hal lagi yang berperan penting konsumen harus tahu tempat-tempat yang memang menjual gitar ini. Karena memang suatu took musik bisa jadi tidak memasukan merek Ibanez dalam katalog penjualan produk mereka ini. Hingga akhirnya konsumen mengambil suatu keputusan membeli produk merek ini dengan adanya berbagai macam pengaruh ataupun faktor yang ada.
Seorang gitaris mungkin saja mempunyai sikap konsumerisme yang cukup tinggi. Konsumerisme adalah suatu gerakan sosial yang dilakukan oleh berbagai pihak yang bertujuan untuk meningkatkan posisi konsumen dalam berinteraksi dengan pihak penjual, baik sebelum, pada saat, dan setelah konsumsi dilakukan. Konsumen perlu mengetahui hak-haknya secara jelas sehingga apabila terjadi ketidaksesuaian yang dirasakan pada tiga fase tersebut, konsumen akan dapat mengidentifikasi letak ketidaksesuaiannya, di mana karena sumber permasalahan dapat berasal dari kecerobohan konsumen itu sendiri.
Dari suatu keadaan tersebut maka di buatlah lembaga perlindungan konsumen Tidak pahamnya konsumen mengenai hak dan kewajibannya sebagai seorang konsumen yang menggunakan barang dan atau jasa yang disediakan oleh pelaku bisnis, sering kali menimbulkan permasalahan yang merugikan konsumen. Kerugian dapat berupa kerugian fisik (kesehatan dan keselamatan) maupun kerugian nonfisik yaitu uang. Sering kali konsumen hanya pasrah setelah menerima perlakuan yang merugikan mereka, yang disebabkan karena mereka tidak tahu bagaimana dan kepada siapa harus mengadukan permasalahannya.
Perlindungan konsumen ini tertuang dalam Undang-undang No.8 Tahun 1999 yang dikenal dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK), di mana secara jelas diuraikan berbagai hal mengenai hak dan kewajiban konsumen dan pelaku bisnis serta pihak-pihak yang terkait dalam program Perlindungan Konsumen. Salah satu lembaga yang bergerak dalam perlindungan konsumen ini adalah Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang tujuan utamanya adalah untuk membantu konsumen Indonesia agar tidak dirugikan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa.
Hingga akhirnya timbul rasa nyaman dalam membeli suatu produk gitar Ibanez tersebut karena adanya suatu perlindungan konsumen. Namun dalam hal ini kasus pelanggaran dari produsen terhadap konsumen dalam bidang alat musik sedikit sekali terjadi. Berbeda dengan adanya pelanggaran produsen dari suatu produk makanan ataupun minuman. Demikian juga dengan hal purna jual ataupun garansi, di alat musik gitar garansi biasanya jarang sekali di berikan, namun konsumen merasa baik-baik saja walaupun produk yang merek beli tidak memiliki garansi.
Referensi : musisi.com ; Perilaku Konsumen, Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc.
Yang pertama harus di ketahui disini adalah apakah memang menggunakan gitar yang berkelas mempunyai peranan yang penting terhadap perilaku konsumen dalam mengambil suatu keputusan pembelian pada akhirnya nanti. Sebagai obyek disini adalah mengambil suatu merek gitar Ibanez, karena dari hasil data vote yang dilakukan oleh musisi.com ternyata merek ini mempunyai suara terbanyak.
Secara garis besar pola perilaku konsumen yang ada sangat beragam yang di mulai dari suatu kebutuhan untuk memiliki lalu di lanjutkan dengan proses pengambilan keputusan hingga akhirnya konsumen tersebut mengambil keputusan akhir. Dalam hal ini model motivasi di mulai karena hasrat yang ada untuk memiliki suatu instrument ini yang lalu di lanjutkan oleh adanya suatu tekanan yang menimbulkan suatu dorongan untuk mencari-cari informasi produk ini hingga pada tujuan akhir sebagai keputusan.
Hasrat yang ada untuk memiliki suatu alat musik ini berawal dari adanya motivasi yang ada hingga menimbulkan suatu keinginan untuk memiliki. Hasrat tersebut dapat timbul karana adanya suatu pengaruh-pengaruh yang ada di sekitar konsumen tersebut, ataupun memang karena keinginan konsumen tersebut.
Tekanan yang ada timbul karena ada hasrat yang ada untuk memiliki, sehingga akhirnya konsumen tersebut termotivasi dengan dorongan yang ada. Dalam hal ini mulai di adakan suatu pencarian informasi yang ada. Informasi bisa berasal dari berbagai macam media yang ada ataupun dapat mencoba langsung menggunakan alat-alat musik tersebut. Namun dalam hal ini beberapa distributor memang telah mengadakan endroser terhadap beberapa musisi lokal untuk mempromosikan produknya. Sehinga secara tidak sengaja jika konsumen tersebut menggunakan gitar dari pabrikan ini bisa menimbulkan suatu prestise ataupun nilai tambah yang dapat membuat dirinya menjadi bangga saat menggunakan merek Ibanez.
Harga yang ada juga bisa mempengaruhi pengambilan keputusan, karena dalam hal ini tentu saja konsumen akan memilih suatu pemenuh kebutuhan yang terbaik dengan harga yang memang terjangkau dengan dana yang mereka miliki. Dilihat dari segi model banyak sekali seri gitar yang di terbitkan oleh pabrikan ini. Untuk masing-masing seri tentu saja memiliki spesifikasi yang dapat dipilih oleh konsumen.
Satu hal lagi yang berperan penting konsumen harus tahu tempat-tempat yang memang menjual gitar ini. Karena memang suatu took musik bisa jadi tidak memasukan merek Ibanez dalam katalog penjualan produk mereka ini. Hingga akhirnya konsumen mengambil suatu keputusan membeli produk merek ini dengan adanya berbagai macam pengaruh ataupun faktor yang ada.
Seorang gitaris mungkin saja mempunyai sikap konsumerisme yang cukup tinggi. Konsumerisme adalah suatu gerakan sosial yang dilakukan oleh berbagai pihak yang bertujuan untuk meningkatkan posisi konsumen dalam berinteraksi dengan pihak penjual, baik sebelum, pada saat, dan setelah konsumsi dilakukan. Konsumen perlu mengetahui hak-haknya secara jelas sehingga apabila terjadi ketidaksesuaian yang dirasakan pada tiga fase tersebut, konsumen akan dapat mengidentifikasi letak ketidaksesuaiannya, di mana karena sumber permasalahan dapat berasal dari kecerobohan konsumen itu sendiri.
Dari suatu keadaan tersebut maka di buatlah lembaga perlindungan konsumen Tidak pahamnya konsumen mengenai hak dan kewajibannya sebagai seorang konsumen yang menggunakan barang dan atau jasa yang disediakan oleh pelaku bisnis, sering kali menimbulkan permasalahan yang merugikan konsumen. Kerugian dapat berupa kerugian fisik (kesehatan dan keselamatan) maupun kerugian nonfisik yaitu uang. Sering kali konsumen hanya pasrah setelah menerima perlakuan yang merugikan mereka, yang disebabkan karena mereka tidak tahu bagaimana dan kepada siapa harus mengadukan permasalahannya.
Perlindungan konsumen ini tertuang dalam Undang-undang No.8 Tahun 1999 yang dikenal dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK), di mana secara jelas diuraikan berbagai hal mengenai hak dan kewajiban konsumen dan pelaku bisnis serta pihak-pihak yang terkait dalam program Perlindungan Konsumen. Salah satu lembaga yang bergerak dalam perlindungan konsumen ini adalah Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang tujuan utamanya adalah untuk membantu konsumen Indonesia agar tidak dirugikan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa.
Hingga akhirnya timbul rasa nyaman dalam membeli suatu produk gitar Ibanez tersebut karena adanya suatu perlindungan konsumen. Namun dalam hal ini kasus pelanggaran dari produsen terhadap konsumen dalam bidang alat musik sedikit sekali terjadi. Berbeda dengan adanya pelanggaran produsen dari suatu produk makanan ataupun minuman. Demikian juga dengan hal purna jual ataupun garansi, di alat musik gitar garansi biasanya jarang sekali di berikan, namun konsumen merasa baik-baik saja walaupun produk yang merek beli tidak memiliki garansi.
Referensi : musisi.com ; Perilaku Konsumen, Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc.
Jumat, 30 Oktober 2009
“Blackberry”, gaya hidup masa kini…
ADELINE / 10207026 / 3EA01
PERILAKU KONSUMEN
SEGMENTASI PASAR :
“Blackberry”, gaya hidup masa kini…
Seiring berjalannya globalisasi, kehidupan pun menjadi serba canggih dan modern. Dampak ini juga mempengaruhi gaya hidup yang sesuai dengan perkembangan teknologi, salah satunya adalah Blackberry.
Blackberry pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 oleh perusahaan Kanada, Research In Motion (RIM). Kemampuannya menyampaikan informasi melalui jaringan data nirkabel dari layanan perusahaan telepon genggam mengejutkan dunia.
Blackberry pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub. Perusahaan Starhub merupakan pengejewantahan dari RIM yang merupakan rekan utama Blackberry. Di Indonesia, Starhub menjadi bagian dari layanan dalam segala hal teknis mengenai instalasi Blackberry melalui operator Indosat. Indosat menyediakan layanan Blackberry Internet Service dan Blackberry Enterprise Server.
Pasar Blackberry kemudian diramaikan oleh dua operator besar lainnya di tanah air yakni Excelkom dan Telkomsel. Excelkom menyediakan dua pilihan layanan yaitu Blackberry Internet Service dan Blackberry Enterprise Server+ (BES+).
Pada awalnya, layanan Blackberry hanya bisa diakses melalui smartphone Blackberry saja. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ketiga operator ini telah menyediakan fasilitas Blackberry Connect yang memungkinkan Blackberry Internet Solution diakses melalui smartphone jenis lain seperti Nokia (N-9500, N-9300, N-9300i, E61. E71), Sony Ericsson P910i, M600i, Palm Treo, Dopod, dan lainnya.
Dengan adanya jenis-jenis “blackberry” yang dikeluarkan oleh provider-provider tersebut, maka konsumen dapat memilih dan memilah sesuai dengan gaya hidupnya masing-masing.
PERILAKU KONSUMEN
SEGMENTASI PASAR :
“Blackberry”, gaya hidup masa kini…
Seiring berjalannya globalisasi, kehidupan pun menjadi serba canggih dan modern. Dampak ini juga mempengaruhi gaya hidup yang sesuai dengan perkembangan teknologi, salah satunya adalah Blackberry.
Blackberry pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 oleh perusahaan Kanada, Research In Motion (RIM). Kemampuannya menyampaikan informasi melalui jaringan data nirkabel dari layanan perusahaan telepon genggam mengejutkan dunia.
Blackberry pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub. Perusahaan Starhub merupakan pengejewantahan dari RIM yang merupakan rekan utama Blackberry. Di Indonesia, Starhub menjadi bagian dari layanan dalam segala hal teknis mengenai instalasi Blackberry melalui operator Indosat. Indosat menyediakan layanan Blackberry Internet Service dan Blackberry Enterprise Server.
Pasar Blackberry kemudian diramaikan oleh dua operator besar lainnya di tanah air yakni Excelkom dan Telkomsel. Excelkom menyediakan dua pilihan layanan yaitu Blackberry Internet Service dan Blackberry Enterprise Server+ (BES+).
Pada awalnya, layanan Blackberry hanya bisa diakses melalui smartphone Blackberry saja. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ketiga operator ini telah menyediakan fasilitas Blackberry Connect yang memungkinkan Blackberry Internet Solution diakses melalui smartphone jenis lain seperti Nokia (N-9500, N-9300, N-9300i, E61. E71), Sony Ericsson P910i, M600i, Palm Treo, Dopod, dan lainnya.
Dengan adanya jenis-jenis “blackberry” yang dikeluarkan oleh provider-provider tersebut, maka konsumen dapat memilih dan memilah sesuai dengan gaya hidupnya masing-masing.
PERILAKU KONSUMEN: KEBIASAAN PENUKARAN UANG DENGAN UANG PECAHAN KECIL KARENA MENJADI TRADISI DALAM LEBARAN
ADELINE / 10207026 / 3EA01
PERILAKU KONSUMEN: KEBIASAAN PENUKARAN UANG DENGAN UANG PECAHAN KECIL KARENA MENJADI TRADISI DALAM LEBARAN
Menjelang lebaran, masyarakat selaku konsumen berlomba-lomba untuk mempersiapkan kebutuhan di hari raya Idul Fitri. Banyak sekali kebiasaan yang mereka lakukan, salah satunya adalah kebiasaan menukar uang dengan uang pecahan kecil. Kebiasaan itu sering mereka lakukan dikarenakan mereka ingin membagikan “amplop” lebaran kepada keluarga saat silaturahmi.
Perilaku konsumen tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan uang nominal rendah pada saat lebaran tiba. Bayangkan! Orang-orang rela menunggu dalam antrian demi mendapatkan pecahan uang tersebut. Konsumen melakukan hal tersebut untuk membagikannya kepada anak-anak dikarenakan anak-anak suka akan uang yang masih baru.
PERILAKU KONSUMEN: KEBIASAAN PENUKARAN UANG DENGAN UANG PECAHAN KECIL KARENA MENJADI TRADISI DALAM LEBARAN
Menjelang lebaran, masyarakat selaku konsumen berlomba-lomba untuk mempersiapkan kebutuhan di hari raya Idul Fitri. Banyak sekali kebiasaan yang mereka lakukan, salah satunya adalah kebiasaan menukar uang dengan uang pecahan kecil. Kebiasaan itu sering mereka lakukan dikarenakan mereka ingin membagikan “amplop” lebaran kepada keluarga saat silaturahmi.
Perilaku konsumen tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan uang nominal rendah pada saat lebaran tiba. Bayangkan! Orang-orang rela menunggu dalam antrian demi mendapatkan pecahan uang tersebut. Konsumen melakukan hal tersebut untuk membagikannya kepada anak-anak dikarenakan anak-anak suka akan uang yang masih baru.
Langganan:
Postingan (Atom)
